MAHESA

Behind The Curtain.
Before Him
Raden Hadi Rahardian. Seringkali, nama itu terselip di perbincangan banyak orang, sebabnya karena ia seorang aktor yang tergolong cukup dikenal. Tambah lagi dengan perusahaan turun-temurun keluarga Rahardian yang kini berada dalam kekuasaannya. Hadi sudah menjadi pemilik segala kecuali satu; keluarga.
Maka dimulailah sebuah pencarian.
Ayahnya—Adimas, sibuk mempertemukan Hadi dengan wanita-wanita cantik, keturunan dari koleganya, namun reaksi yang didapat ialah tolakan mentah-mentah. Bukannya mereka kurang cantik, kurang sopan, apalagi kurang kaya. Hadi hanya memiliki satu wanita di benaknya; Rahayu Wijayanti. Seorang gadis yang ditemuinya saat masih menduduki bangku sekolah menengah atas. Sosok yang sangat setia mendengarkan segala keluh kesah Hadi sebagai seorang anak yang diberi begitu banyak ekspektasi, walau kebanyakan akan berkata ia tak bersyukur.
Bermodalkan keberuntungan (dan sebuah mobil), Hadi mencari presensi perempuan itu ke seluruh penjuru kota. Ia bahkan mendatangi sekolah menengah atas tempatnya dahulu menimba ilmu, namun hasilnya nihil. Jejak sekecil apa pun tak ada. Adimas mencoba menghentikan putra semata wayang-nya, tetapi rupanya ia cukup berdedikasi.
Bagai dunia berpihak, Hadi bertemu dengan Rahayu di sebuah toko rental kaset ketika ia sudah lelah mencari dan butuh penyegaran. Keduanya berkenalan kembali, jatuh cinta, dan menikah.
His Existence
Lahirlah Raden Mahesa Rahardian sebagai putra sulung Raden Hadi Rahardian dan Rahayu Wijayanti, membawa kebahagiaan tiada tara bagi pasangan tersebut.
Satu bulan setelah dilahirkan ke dunia, Mahesa — atas pemintaan Hadi — dilarikan ke Jombang, Jawa Timur. Sebabnya? Hadi tahu betapa menyusahkan hidup dalam sorotan kamera, dan ia yakin hal itu akan terjadi pada anaknya—Mahesa, mengingat dirinya merupakan seorang tokoh publik. Walau berat, ia merelakan putranya untuk pergi sampai sudah cukup besar agar tak hidup dalam bayang-bayang.
Biarpun tinggal di kota kecil, pendidikan yang didapat Mahesa tak main-main. Si Ayah mengirimkan guru privat pilihannya ke Jombang, yang membantu pembelajaran Mahesa (dengan mengunjungi rumahnya) setiap hari kecuali hari Minggu.
Menginjak usia empat belas tahun, Mahesa mulai sering mengeluh soal orangtuanya yang berada jauh di Jakarta dan tidak pernah membolehkan untuk berkunjung. Selalu saja mereka yang datang, itupun tak terlalu sering. Ia sangat kesepian dan membutuhkan kasih sayang.
Dengan segenap hati dan pertimbangan, Mahesa memutuskan untuk pergi ke Jakarta menggunakan uangnya sendiri, tanpa izin siapa-siapa. Salah satu hal terberani yang pernah dilakukan Mahesa kecil—yang bahkan tak tahu menahu sama sekali perihal ibukota.
Satu detik setelah menginjakkan kaki di kediaman keluarga Rahardian, yang didapatinya ialah si Ayah dan Ibu dengan mulut menganga. Hampir tak percaya yang berdiri di ambang pintu kala itu ialah putra sulung mereka.
Awalnya, Hadi ingin sekali menghujani Mahesa dengan omelan, namun Rahayu mencegahnya. Membiarkan Mahesa menjelaskan sebab dan tujuan kedatangannya. Pasangan Rahardian tersebut bersedih, merasa bersalah atas rasa sepi yang dirasakan si putra. Rupanya, upaya mereka dalam melindungi malah berakhir menyakiti.
Mahesa tak lagi tinggal di Jombang, kembali bersatu dengan kedua orangtuanya sebagai keluarga yang bahagia.
Usai sang ayah mengakhiri karir sebagai seorang aktor, keduanya tak lagi segan untuk menunjukkan kebersamaan di hadapan publik, walau terkadang kamera masih memberi perhatian—mengetahui lelaki itu akan mewarisi perusahaan keluarga Rahardian dan (kata mereka) memiliki paras yang tergolong elok.